gooretro

era baru dunia digital ada ditangan kita

Ayah kaya tertawa pelan dan berkata

Setelah menjalani proses duduk di sisi lain meja sekitar lima kali. saya akhimya bertanya kepada ayah kaya mengapa ia menyuruh saya duduk di sana. Jawabannya adalah, ”Kukira kamu takkan pernah bertanya. Menurutmu mengapa aku memintamu duduk diam dan melihatku mewawancarai orang-orang itu?” 
”Aku tidak tahu,” jawabku. ”Aku kira Bapak hanya ingin aku menemani Bapak.” 

Ayah kaya tertawa. ”Aku takkan pernah membuang-buang waktumu seperti itu. Aku sudah berjanji akan mengajarimu cara menjadi kaya, dan aku sedang memberi apa yang kamu minta. Jadi, sejauh ini apa yang sudah kamu pelajari?” 

Sambil duduk di sebelah ayah kaya dalam ruangan jam digital masjid yang sekarang kosong dan tidak berisi orang-orang yang melamar pekerjaan, saya memikirkan pertanyaannya. ”Aku tidak tahu,” jawabku. ”Aku tidak pernah menganggap ini sebagai pelajaran.” 

Ayah kaya tertawa pelan dan berkata, ”Kamu sedang belajar sebuah pelajaran yang sangat penting... jika kamu ingin menjadi kaya. Sekali lagi, kebanyakan orang tak pernah mendapat kesempatan untuk mempelajari pelajaran yang aku ingin kamu pahami, karena kebanyakan orang hanya melihat dunia dari sisi lain meja.” Ayah kaya menunjuk kursi kosong di depan kami. ”Hanya sedikit orang yang melihatnya dari sisi meja sebelah sini. Kamu sedang melihat dunia nyata-dunia yang dilihat orang begitu mereka meninggalkan bangku sekolah. Tapi kamu mempunyai kesempatan melihatnya dari sisi meja sebelah sini sebelum lulus sekolah.” 

”Jadi, jika ingin kaya, aku harus duduk di sisi meja sebelah sini?” tanya saya. 

Ayah kaya menggeleng. Dengan perlahan dan sangat jelas ia mulai, ”Bukan hanya duduk di sisi meja sebelah sini, kamu juga harus mempelajari apa yang dibutuhkan untuk duduk di sisi meja sebelah sini... dan sayangnya, hal ini tidak diajarkan di sekolah. Sekolah mengajarimu cara untuk duduk di sisi meja sebelah sana.” 

”Masa?” tanya saya, agak heran. ”Bagaimana caranya?” 
”Dengan alasan apa ayahmu menyuruhmu sekolah?” tanya ayah kaya. 
”Supaya aku bisa mencari pekerjaan,” jawab saya pelan. ”Dan bukankah itu yang dicari orang-orang ini? Pekerjaan?” 

Ayah kaya mengangguk dan berkata, ”Dan itu sebabnya mereka duduk di sebelah sana. Aku bukan mengatakan satu sisi lebih baik daripada sisi yang lain. Yang ingin kutunjukkan kepadamu hanyalah bahwa ada perbedaan di antara keduanya. Sebagian besar orang tidak melihat perbedaannya. Inilah pelajaranku untukmu. Yang ingin kutawarkan kepadamu hanyalah pilihan di sisi meja sebelah mana kamu akhirnya akan duduk. Jika kamu ingin kaya di usia muda, jam digital masjid sisi meja sebelah sini memberimu kesempatan yang lebih besar untuk mencapai tujuan itu. Jika kamu serius ingin jadi kaya dan tidak harus bekerja keras seumur hidupmu, aku akan mengajarimu cara melakukannya. Jika kamu ingin duduk di sisi meja sebelah sana, maka ikutilah saran ayahmu.” 

Pelajaran yang Didapat 

Itu adalah pelajaran pengarahan hidup yang sangat penting. Ayah kaya tidak memberi tahu saya untuk duduk di sisi meja sebelah mana. Ia menawarinya sebuah pilihan. Saya mengambil keputusan saya sendiri. Saya memilih apa yang ingin saya pelajari, tidak perlu menentang apa yang diwajibkan untuk saya pelajari. Dan itulah Cara ayah kaya mengajari saya selama bertahun-tahun. Pertama tindakan, kedua kesalahan. ketiga pelajaran. Setelah pelajaran, ia memberi saya sebuah pilihan mengenai apa yang akan saya lakukan dengan pelajaran yang sudah saya dapat. 

Anda Sering Tidak Bisa Melihat Apa yang Ada Tepat di Depan Anda 



  • Silahkan masukan huruf yang tertulis pada gambar di atas dengan benar.
     

    Isi tulisan akan diterbitkan dan hanya pemilik blog yang dapat menghapusnya.


    削除
    Ayah kaya tertawa pelan dan berkata
      Komentar(0)