gooretro

era baru dunia digital ada ditangan kita

Perubahan Persepsi

Saya tidak bisa belajar hanya dengan duduk diam, mencoba menerima informasi secara mental, apalagi kalau saya tidak tertarik atau pembicaranya membosankan. Mungkinkah ini alasan mengapa orangtua dan sekolah semakin banyak menggunakan obat-obatan untuk membuat anak-anak hiperaktif tetap diam dan duduk jam digital masjid di kursi mereka? Anak-anak ini kemungkinan hanyalah murid fisik dan tidak tertarik pada apa yang harus mereka pelajari. Jadi, ketika mereka memberontak, apakah sistem pendidikan membius mereka? 
Bila berbicara mengenai pembelajaran spiritual, hal ini tidak selalu dalam konteks agama formal. Yang saya maksud dengan spiritual adalah perasaan yang kita dapat ketika menghadiri sesuatu seperti Special Olympics dan melihat anak-anak penyandang cacat fisik berlari atau mendorong kursi roda mereka dengan seluruh tubuh, pikiran, dan jiwa mereka. 

Setahun lalu saya menghadiri sebuah acara khusus, dan semangat para orang muda itu menyentuh seluruh penonton. Saya juga berdiri dan bersorak-sorai ketika melihat para orang muda itu mengerahkan tenaga tubuh mereka yang cacat, lebih keras daripada saya mengerahkan tenaga tubuh saya yang sehat. Jiwa mereka memancar dan menyentuh jiwa kami semua. Para jiwa muda itu mengingatkan kami semua akan siapa diri kami yang sebenarnya dan terbuat dari apa kami semua sebenarnya. Inilah pembelajaran spiritual yang saya maksud. 

Ketika berada di Vietnam, saya melihat orang-orang muda terus bertempur meski tahu mereka akan mati. Semangat merekalah yang memberi mereka tenaga, menyerahkan nyawa mereka supaya kelompok mereka bisa hidup. Saya juga menyaksikan berbagai hal di Vietnam yang tidak berani saya tuliskan di sini karena tidak mau terdengar terlalu tak masuk akal. Meski jam digital masjid demikian, saya pernah menyaksikan orang-orang muda melakukan berbagai hal yang mustahil dijelaskan dari sudut pandang mental, emosional, atau fisik. Inilah kekuatan spiritual yang saya maksud. 

Ketika anda menghadiri pesta pernikahan dan melihat dua orang menikah, dalam benak saya ini adalah dua sosok fisik yang menyatu di depan Tuhan, secara spiritual. Ini adalah komitmen dua jiwa yang menyatu dan melangkah ke dalam dunia. Sayangnya, dengan begitu tingginya tingkat perceraian, tampaknya banyak orang menyatu secara mental, emosional, dan fisik, tapi tidak secara spiritual. Itu sebabnya mengapa ketika keadaan menjadi sulit mereka berpisah. Yang jelas, dalam makna yang ideal, inilah pendidikan spiritual yang saya maksud. Saya tidak bermaksud menghina siapa pun, dan saya juga tidak ingin memaksakan pendapat pribadi saya pada pandangan religius atau spiritual siapa pun. Saya hanya berbicara tentang kekuatan yang berada di luar batas mental, emosional, dan fisik kita. 

Saya ingat, ketika berusia antara sembilan dan dua belas tahun, saya mengalami perubahan mendasar dengan piramida belajar saya. Saya tahu saya mengubah persepsi saya tentang diri sendiri secara mental, emosional, fisik, dan spiritual. Ketika saya melihat ayah kaya saya menandatangani dokumen, menyerahkan cek, dan menerima serenceng kunci. sesuatu dalam diri saya berubah. Ketika hal itu terjadi, hubungan antara permainan Monopoli dan kehidupan nyata menjadi riil. Setelah merasa tidak puas pada diri sendiri karena Saya tidak pandai, setidaknya tak sepandai ayah pandai saya dan Andy Si Semut, saya berubah. Saya merasa puas dengan diri sendiri. Saya tahu saya bisa berhasil dalam hidup, dan saya tahu saya bisa bertahan hidup. Saya tahu saya akan berhasil dengan cara saya sendiri. Saya tahu saya tidak membutuhkan pekerjaan berpenghasilan tinggi atau bahkan uang untuk berhasil secara finansial.



  • Silahkan masukan huruf yang tertulis pada gambar di atas dengan benar.
     

    Isi tulisan akan diterbitkan dan hanya pemilik blog yang dapat menghapusnya.


    削除
    Perubahan Persepsi
      Komentar(0)